Perbedaan Saham Online Mahal dan Murah (admiralmarkets.com)

Banyak kalangan masyarakat sudah tertarik bermain saham. Investasi jangka pendek ini dipilih untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Kalau berbicara tentang investasi saham online, Anda juga harus mengetahui saham yang mahal dan murah. Jangan sampai Anda salah dalam jual beli saham.

Kami akan menjelaskan satu persatu terkait ciri saham mahal dan saham murah. Dengan begitu, Anda akan mudah membedakan seperti apa saham yang mahal (overvalued) dan saham yang dianggap murah (undervalued).

Saham Mahal atau Overvalued


Apa yang dimaksud saham mahal atau overvalued? Harga saham mahal berarti harganya di atas harga normal atau wajar. Kalau saham artinya surat berharga bukti kepemilikan terhadap suatu emiten. Jadi pengerti saham mahal adalah surat berharga yang mempunyai nilai atau harga di atas harga normal.

Kebanyakan orang tidak mau membeli saham mahal karena dianggap merugikan. Padahal, saham overvalued seperti ini tidak selamanya merugikan. Sebab, ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan agar saham ini nanti jadi menguntungkan.

Contoh Kasus


Rumah tipe 45 dijual normal dengan harga Rp 500 juta. Kemudian ada yang jual rumah tersebut dengan harga Rp 600 juta. Tentu saja, banyak orang menganggap rumah tersebut kemahalan. 

Namun, perlu dipertimbangkan lagi, kalau rumah tadi berada di dalam pusat kota, lokasi yang strategis, desain bagus, dan mudah diakses dari arah mana saja, tentu harga Rp 600 juta masih cukup menggiurkan.

Contoh kasus tadi mungkin bisa dijadikan gambaran bahwa saham mahal belum tentu buruk. Namun, ada juga beberapa pandangan lain tentang saham mahal atau overvalued.

Pandangan Saham Mahal atau Overvalued


Terdapat pandangan, saat beli saham yang terlalu mahal, pada akhirnya nanti akan bergerak menuju nilai normal. Jadi keuntungan dari beli saham tersebut relatif kecil.

Selanjutnya, ada pandangan bahwa saham mahal milik perusahaan tertentu pantas dihargai mahal karena pasar percaya dengan perusahaan yang bersangkutan.

Cara Menentukan Saham Mahal atau Overvalued


Rumus dan cara menentukan saham mahal atau tidak dengan Price to Book Valued (PBV) Ratio. Rumus PBV yaitu membandingkan harga saham (stock price) dengan nilai buku (book value) perusahaan.

Rumus PBV = Harga Saham / Nilai Buku

Jika nilai PBV saham emiten lebih besar dari 1 maka itu disebut saham mahal atau overvalued. Sebaliknya, jika saham emiten lebih kecil dari 1 maka itu disebut saham murah.

Apabila ada beberapa saham perusahaan yang memiliki nilai PBV sama besar, Anda dapat mencari saham paling mahal dengan parameter Price to Earnings Ratio (PER).

Rumusnya PER dihasilkan dari perbandingan antara harga saham dengan laba per lembar saham (earnings per share).

Rumur PER = Harga Saham / Laba Per Lembar Saham

Kalau menurut rasio PER, saham dianggap mahal bila nilai PER lebih besar 15. Jika nilai PER lebih kecil dari 10 maka itu dianggap saham murah. Apabila saham berada di antara 10-15, berarti bernilai normal.

Saham Murah atau Undervalued


Pengertian saham murah atau undervalued adalah harga saham yang berada di bawah harga normal. Ini seperti tokoh investor sukses Warren Buffet. Dia lebih tertarik mencari saham murah untuk memaksimalkan keuntungan investasi dan meminimalisir risiko investasi.

Tips Mencari Saham Murah


Kalau Anda ingin mencari saham yang murah, Anda harus mencari saham di satu sektor yang sama. Misalnya, sektor pertanian terdapat banyak perusahaan, maka cari saja perusahaan di sektor pertanian tersebut. Pasti dari situ akan ketemu saham yang murah.

Jika Anda mencari saham murah dari beberapa sektor, misalnya sektor pertanian dan keuangan, tentu saja kurang relewan dan tidak efektif.

Untuk menentukan saham murah atau tidak, Anda dapat menggunakan rasio PBV dan PER. Dengan begitu, akan kelihatan perusahaan mana yang benar-benar memiliki saham murah atau undervalued.

Baca juga:

Kesimpulan


Demikian perbedaan saham online mahal dan murah. Tidak selamanya saham mahal akan merugikan. Namun, kalau mau cari aman dan menguntungkan lebih baik memiliki saham murah. Salah satu pakar investasi, Fabozzi (1999) mengatakan bahwa saham murah atau undervalued cenderung bergerak menuju nilai intrinsiknya atau nilai normal. 

Jika saham murah mendekati harga normalnya, berarti potensi kenaikan nilai saham akan jauh lebih besar dan pastinya menguntungkan. Kalau Anda membeli saham mahal, ada kemungkinan nilainya juga bergerak menuju harga normalnya sehingga potensi keuntungan mungkin kecil atau justru merugikan.

Post a Comment