Pavel Durov Pendiri Telegram (reclaimthenet.org)

Dalam beberapa bulan terakhir, aplikasi WhatsApp diketahui sering sekali ditemukan bug. Sistem keamanan WhatsApp sekarang jadi sorotan publik. Sang kompetitor, pendiri Telegram memanfaatkan momen tersebut untuk menggeser aplikasi WhatsApp.

Alasan Pengguna Harus WhatsApp


Ya, pendiri Telegram yang bernama Pavel Durov, mengajak para pengguna untuk menghapus aplikasi WhatsApp dari smartphone. Alasannya karena aplikasi tersebut mempunyai banyak masalah, terutama di platform chatting. Contohnya, masalah sistem yang bisa memata-matai pengguna hingga rentan diretas lewat kiriman video.

“WhatsApp tidak hanya gagal melindungi pesan WhatsApp kalian, aplikasi ini secara konsisten digunakan sebagai Trojan untuk memata-matai foto dan pesan yang bahkan tidak berasal dari aplikasi WhatsApp,” jelas Durov melalui kanal resminya di Telegram, Durov’s Channel. 

Baca juga: Cara Menghapus Chat WA yang Sudah Lama Lewati Batas 7 Menit

Dia menambahkan, Facebook sudah lama melakukan program mata-mata ke pengguna, jauh sebelum mereka mengakuisisi WhatsApp. Kalau aplikasi WhatsApp saja sampai sekarang masih memata-matai penggunanya berarti aplikasi ini pasti akan dijadikan senjata utama Facebook untuk memantau penggunanya.

Tidak hanya menunjukkan sejumlah kelemahan WhatsApp, Pavel Durov juga menyelipkan klaim bahwa Telegram lebih baik dari WhatsApp. Walau keduanya hampir sama, tetapi Telegram diklaim Pavel Durov tidak pernah mengalami masalah seperti masalah yang dihadapi WhatsApp setelah 6 tahun diluncurkan.

“Mungkin saja WhatsApp secara tidak sengaja menerapkan kerentanan keamanan di aplikasi mereka setiap beberapa bulan. Sangat tidak mungkin ada orang yang sengaja membuat celah keamanan, apalagi yang bisa disusupi oleh mata-mata,” sindirnya.

Kelemahan WhatsApp


Masih ingatkan pada bulan Mei 2019 lalu, celah keamanan WhatsApp terungkap. Di dalam aplikasi tersebut terdapat bug yang memungkinkan hacker untuk menyusupkan program memata-matai atau spyware melalui panggilan video call. Program tersebut dapat berjalan walau penerima tidak mengangkat panggilan video call tersebut sekalipun.

Tidak cukup sampai di situ saja, pada awal November 2019 lalu, WhatsApp juga mengakui adanya bug di aplikasi pesannya. Bug ini memungkinkan pengguna WhatsApp dapat diretas melalui kiriman file video.

Baca juga: Status WhatsApp Bisa Dibagikan ke Facebook dan Instagram

Setelah diselidiki ternyata salah satu program mata-mata bernama Pegasus itu disebutkan sedang menargetkan para jurnalis dan pembela hak asasi manusia. Hal tersebut ditemukan oleh Citizen Lab. 

Kala itu, mereka menyebutkan bahwa program tersebut teridentifikasi buatan NSO Grup. Perlu Anda ketahui, NSO Grup merupakan layanan paling laris yang dipakai kalangan pemerintahan represif di seluruh dunia.

Post a Comment