Cara Menghitung Laba Kotor Toko dan UMKM, Lengkap dengan Rumus dan Contohnya

Cara Menghitung Laba Kotor Toko dan UMKM


Teknolagi.net - Banyak pemilik toko merasa bisnisnya ramai karena penjualan tinggi dan stok terus berputar. Namun, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan. Salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan adalah laba kotor.

Laba kotor merupakan selisih antara pendapatan penjualan dan Harga Pokok Penjualan (HPP). Angka ini menjadi dasar untuk mengetahui apakah harga jual sebuah produk sudah cukup sehat setelah memperhitungkan biaya langsung untuk mendapatkan atau memproduksinya.

Rumus dasar laba kotor cukup sederhana, yakni laba kotor = pendapatan − HPP. Pendapatan diperoleh dari jumlah produk yang terjual dikalikan harga jual, sedangkan HPP mencakup biaya langsung seperti harga beli barang, bahan baku, kemasan, hingga tenaga kerja langsung untuk produk yang dibuat sendiri.

Baca juga: Cara Menghitung HPP Makanan dengan Mudah: Panduan Lengkap untuk Pemula

Sebagai contoh, reseller baju yang menjual 200 pakaian dengan harga Rp85.000 per produk akan memperoleh pendapatan Rp17 juta. Jika harga beli Rp50.000 dan biaya kemasan Rp3.000 per produk, total HPP mencapai Rp10,6 juta. Dengan demikian, laba kotornya sebesar Rp6,4 juta atau margin sekitar 37,6 persen.

Perhitungan serupa bisa diterapkan pada berbagai jenis usaha. Warung nasi yang menjual 350 bungkus dengan harga Rp15.000 dan memiliki HPP Rp9.000 per bungkus menghasilkan laba kotor Rp2,1 juta dari pendapatan Rp5,25 juta. Sementara produsen keripik dengan 500 bungkus terjual seharga Rp12.000 dan HPP Rp6.000 per bungkus menghasilkan laba kotor Rp3 juta.

Pemilik usaha juga perlu membedakan HPP dengan biaya operasional. Harga beli barang, bahan baku, kemasan, tenaga kerja langsung, dan ongkos masuk stok dapat masuk HPP. Sebaliknya, biaya iklan, gaji admin, sewa toko, listrik, ongkir kepada pembeli, serta komisi marketplace perlu dipisahkan sebagai biaya operasional.

Selain nominal laba, margin laba kotor juga penting diperhatikan. Rumusnya adalah (laba kotor ÷ pendapatan) × 100 persen. Margin membantu pemilik usaha membandingkan tingkat keuntungan antarproduk meskipun harga jualnya berbeda.

Kesalahan seperti menganggap omzet sebagai keuntungan, melupakan biaya kemasan, mencampur HPP dengan biaya operasional, atau tidak memperhitungkan diskon dapat membuat kondisi bisnis terlihat lebih sehat dari keadaan sebenarnya.

Karena itu, pemilik toko dan UMKM sebaiknya mencatat penjualan, HPP, laba kotor, dan margin setiap bulan untuk masing-masing produk. Dengan cara tersebut, produk yang paling menguntungkan dapat diketahui dan strategi harga maupun promosi bisa ditentukan berdasarkan data.

LihatTutupKomentar